Yangon - Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi menunda kunjungannya ke Indonesia pada Desember mendatang. Penundaan ini diumumkan setelah kepolisian Indonesia menggagalkan rencana pengeboman Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta.
Seperti dilansir AFP, Selasa (29/11/2016), Suu Kyi berencana untuk mengunjungi Indonesia setelah melakukan kunjungan ke Singapura pada 30 November hingga 2 Desember mendatang. Namun seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Myanmar menyatakan rencana kunjungan itu ditunda.
"Kami menunda kunjungan ke Indonesia karena persoalan di Rakhine dan juga wilayah utara Shan State," terang Wakil Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Myanmar, Aye Aye Soe. Shan State merupakan lokasi pertempuran militer Myanmar dengan pemberontak etnis.
"Rencana kunjungan akan diatur dalam waktu dekat," tutur Aye Aye Soe kepada AFP, sembari membantah penundaan ini didasari alasan keamanan.
Baca juga: Negara Barat Makin Prihatin Akan Cara Suu Kyi Tangani Kekerasan di Myanmar
Namun diketahui pekan lalu, Polri menangkap sejumlah terduga teroris di beberapa wilayah. Terduga teroris perakit bom bernama Rio Priatna Wibowo ditangkap pada Rabu (23/11), di Majalengka, Jawa Barat. Dalam penangkapan itu, polisi menyita sejumlah besar peledak dengan kekuatan tinggi.
Pada Sabtu (26/11), Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror menangkap terduga teroris bernama Bahrain Agam di Aceh Utara. Lalu pada Minggu (27/11) pagi, Densus 88 meringkus satu lagi terduga teroris bernama Saiful Bahri di Serang, Banten. Baik Bahrain maupun Saiful sama-sama diyakini sebagai anggota jaringan Rio Priatna Wibowo. Dari penangkapan itu, terungkap rencana pengeboman sejumlah lokasi, termasuk Kedubes Myanmar di Jakarta.
"Tersangka (Saiful-red) turut merencanakan pengeboman di Gedung DPR RI, Mabes Polri, Kedutaan Myanmar dan Stasiun TvOne dan Metro TV," terang Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar dalam keterangannya kepada detikcom, Minggu (27/11).
Ditambahkan Boy Rafli, bahwa anggota jaringan Rio Priatna Wibowo juga merupakan anggota kelompok Jemaah Ansar Daulah atau JAD, yang telah berbaiat kepada militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). "Kelompok jaringan Rio merupakan sel JAD yang berbaiat kepada ISIS," ungkap Boy.
Baca juga: Polri: Terduga Teroris Banten Rencanakan Bom Gedung DPR dan Mabes Polri
Sementara itu, terkait krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, sejumlah unjuk rasa digelar di beberapa negara termasuk Indonesia. Ratusan demonstran menggelar aksinya di Jakarta, pekan lalu, menyerukan pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar terkait penindasan kepada minoritas Rohingya di Rakhine.
(nvc/bpn)
Aung San Suu Kyi Tunda Kunjungan ke Indonesia
Aung San Suu Kyi saat berpidato di hadapan Majelis Umum PBB (REUTERS/Carlo Allegri)
SURAT TERBUKA UNTUK PANGLIMA TNI: JENDERAL GATOT NURMAYANTO.
HAL: BANTUAN TRANSPORTASI BELA ISLAM 212
Yang terhormat Jenderal Gatot,
Berdasarkan laporan dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang mengatakan bahwa para peserta Aksi Bela Islam 212 dihambat dalam proses mendapatkan sarana transportasi bus, maka dengan ini saya memohon dengan sangat agar Panglima dapat mengerahkan armada transportasi milik TNI untuk mereka.
** Bahwa sesungguhnya sebagai warga negara mereka berhak untuk bepergian ke bagian manapun di wilayah Republik ini, tanpa boleh dihambat oleh pihak manapun.
** Bahwa negara memiliki fasilitas yang dapat membantu mereka untuk menghadiri Aksi Bela Islam 212 di Jakarta.
Oleh sebab itu saya memohon agar Panglima dapat mengizinkan penggunaan sarana transportasi yang dimiliki oleh militer: bus, truck, kapal perang dan pesawat Hercules untuk mengantarkan mereka dari daerah menuju ibukota.
TNI berasal dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan ada untuk kepentingan rakyat Indonesia.
Terima kasih dan salam hormat.
Jakarta, 25 November 2016
Dra. Karimah Muhammad, Apt.
Alumni ITB
Bagi yg peduli tlg Bantu sebar 🙏🏼🙏🏼
Ro
আজকেও ৩০ জন নিরাপরাধ রোহিঙ্গা মুসলিম কে হত্যা করা হলো মিয়ানমার সেনাবাহিনী অথচ বিশ্ব নিরব ভুমিকা পালন করছে,আর যদি হিন্দু বা খৃষ্টান হতো এতক্ষণে বেহায়া মিডিয়া তোলপার শুরু করে দিতো,এখন কি মানবতার লঙ্ঘন হচ্ছে না,নাকি এরা মানুষ নয়। মুসলমানদের জন্য কি পৃথিবীতে কোন মানব অধিকার নাই..??!
Israel Mediasangmuslim.com - kebakaran Hebat melanda Israel
Kobaran api yang semakin besar menghanguskan dan membakar penjuru kota dalam sekejap dan api masih menyala hingga pagi hari kamis 24/11/16 .
Ini sebagai peringatan dari allah atas tindakan israel yang sebelumnya melarang umat muslim palestina menggunakan pengeras suara untuk AZAN.
kabar yang di kirim dari yarusalem israel Ratusan Aparat sudah mengevakuasi warga di sekitar desa Yerusalem namun hal itu pun sempat terhalang.
Pihak berwenang Setempat mengatakan kebakaran ini bisa meluas akibat angin yang sangat kencang,dalam kondisi kemarau dan kondisi kering memperburuk kebakaran di seluruh israel.
Menteri israel Akhirnya meminta bantuan internasional khususnya negara tetangga.
Namun Sebuah kebakaran hebat di bukit Yerusalem memaksa warga Nataf, barat ibukota bagian utara israel, untuk mengevakuasi rumah mereka Rabu pagi, seperti saat ini hal ini memperburuk israel di karenakan kebakaran hampir menjalar ke seluruh negeri hingga desa kecil.
Petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api namun kobaran api semakin luas,ini di karenakan hal ini telah dipicu oleh kondisi angin yang kencang,Pemadam dengan 25 tim dan empat pesawat tidak mampu memadamkan kobaran api tersebut.
Anak-anak israel yang berada di sekolah-sekolah lokal dan beberapa ratusan Nataf untuk warga dievakuasi ke pusat komunitas di desa yang berdekatan dari Abu Ghosh.
Dekatnya, warga Neve Ilan dan Mevo Horon ditempatkan di peringatan evakuasi jika api terus menyebar.
Tiga rumah di Nataf dilaporkan hancur, namun seorang pejabat desa mengatakan kepada situs kami via email tidak ada cedera
Pada sore hari, kata pihak berwenang Nataf rumah tidak lagi dalam bahaya, meskipun warga masih diperintahkan untuk menjauh.
Petugas pemadam kebakaran bekerja memadamkan kebakaran hutan di dekat Zichron Yaakov pada 22 November 2016. (Meir Vaaknin / Flash90)
Sementara itu, petugas pemadam kebakaran di Zichron Yaakov terus memadamkan kobaran api besar yang telah menelan puluhan rumah dan mendorong evakuasi ribuan juta warga sehari sebelumnya.
kebakaran dekat Zichron dan Nataf yang terbaru dalam serangkaian kebakaran sikat di seluruh negeri selama 36 jam terakhir bahwa pihak berwenang menyalahkan angin kencang dan kondisi kering.
Api di Zichron menghancurkan sedikitnya 10 rumah,dan delapan orang,termasuk tiga anak,dirawat karena menghirup asap di rumah sakit setempat.
Sekitar 3.000 warga dari lingkungan Har Eden,Givat Zamarin dan daerah sekitarnya yang dievakuasi Selasa malam diberitahu mereka meninggalkan rumah mereka untuk beberapa hari.
ini sebenarnya menjadi pelajaran untuk israel yang telah melarang kaum muslim Palestina Mengumandangkan AZAN di mesjid dan melarang besar besaran.
hingga kejadian ini setelah pelarangan Azan menggunakan pengeras suara,israel di bumi hanguskan dengan kebakaran hebat yang melanda tempat mereka dan kondisi angin yang begitu kencang dalam kondisi kemarau.
Hal ini di buktikan oleh beberapa Video yang sempat beredar di Youtube dan menjadi Vilar selama satu hari ini.[Ipe/MO]
Kabar Online Mediasangmuslim.com - Kabar kembalinya kasus pembunuhan masal secara keji dan tidak berprikemanusiaan kepada umat Islam di Rohingya,Negara bagian Myanmar ramai mencuat di media dan Video Pembakaran dan pembantaian menjadi Viral Di Dunia maya baik youtube,facebook,dan twitter.
Dalam sebuah video yang beredar di youtube terlihat rumah-rumah di Rohingya dihancurkan dan dibakar oleh militer dan penduduk anti-Islam di Kawasan Myanmar.
Banyak Mayat-Mayat dari penduduk muslim Rohingya terlihat bermunculan dari dalam lumpur dan puing bekas pembakaran.
Peristiwa ini memperlihatkan kekerasan yang terus berulang dilakukan militer dan penduduk setempat pada umat Islam Rohingya,Di Myanmar.
Bahkan aksi tersebut dilakukan secara kejam dan di luar batas Prikemanusiaan
Atas kejadian ini Beberapa negara pun memberikan kecaman kepada Negara Myanmar pun bermunculan,Termasuk Negara Indonesia Memberikan kecaman kepada kedubes Myanmar.
Tak terkecuali (PEPIAT) Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara.
'Kami mengecam keras peristiwa yang terjadi atas genosida Rohingya,kami meminta Presiden Jokowi dodo sebagai Presiden Republik Indonesia untuk tegas pada Negara Myanmar dan Kedubes Myanmar'
Presiden Jokowi bisa usir Langsung Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, dan juga meminta agar Myanmar dikeluarkan dari ASEAN
” Tutur Puji Hartoyo Abubakar Pimpinan (PEPIAT )Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara,Presiden PEPIAT dalam sebuah keterangan persnya kepada media hari Senin(21/11/2016).
Menurut laporan pemerintah Bangladesh, setidaknya puluhan ribu warga muslim Rohingya banyak yg menyeberang ke Bangladesh dari perbatasan Myanmar, Mereka berusaha melarikan diri dari militer Myanmar yang melakukan Pembantaian kepada muslim Rohingya.
Adapun pendiri Fortify Rights di Bangkok, Matthew Smith mengatakan,Pemerintah negara Myanmar terus-menerus menyangkal kalau mereka telah melakukan pelanggaran HAM Hak Asasi Manusia yang sangat berat terhadap kelompok minoritas muslim Rohingya di Myanmar.
"Jika pelanggaran Hak Asasi Manusia ( HAM )dilakukan oleh pemerintah maka setiap orang di negara tersebut seharusnya mulai memperhatikan hal ini" katanya seperti dilansir CNN,Jumat 18 November 2016.
Hal senada juga dikatakan oleh Petinggi PEPIAT, pemerintah Myanmar dikatakannya telah melakukan pelanggaran berat atas kesengajaan kasus pembunuhan dan pengusiran umat Islam Rohingya yang terus menerus.
”Sulit menutupi peristiwa demi peristiwa kasus Rohingya yang terjadi saat ini.
Dunia Pun menyoroti hal ini,media dan teknologi informasi bisa melacak kekejian itu semua,Tutur Hartoyo Mantan Ketua Umum PB HMI tersebut.
PEPIAT pun mengancam akan membuat koalisi internasional untuk melaporkan peristiwa Rohingya ke Mahkamah Pidana Internasional.
Sumber:
[voa-moeslim.com]
[voa-islam.com]
Jakarta Mediasangmuslim.com - Sesuai Amanat UUD 45, Pemerintah Harus Bantu Muslim Rohingya Senin, 21/11/2016
Aksi Komite Advokasi untuk Muslim Rohingnya Arakan (KAMRA) menuntut dunia internasional bantu Muslim Rohingya.
Komite Advokasi untuk Muslim Rohingnya Arakan (KAMRA) menilai, tragedi pembunuhan terhadap ratusan Muslim etnis Rohingya dan pembakaran Alquran di Myanmar merupakan sebuah tindak kriminal kemanusiaan dan penghinaan terhadap agama Islam yang menyalahi hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh rezim militer di negara tersebut.
"Cukup sudah penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di Myanmar khususnya Rohingya. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan perdamaian dunia, sudah saatnya kita serukan pembebasan dan perlakuan yang sama bagi saudara-saudara kita di Myanmar, terutama bagi kaum minoritas muslim yang sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dan selalu terzhalimi," ujar Sekjen KAMRA, Ustaz Bernard Abdul Jabbar melalui pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Ahad (20/11/2016).
Menurutnya, sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya bangsa Indonesia peduli terhadap penderitaan muslim Rohingya.
Oleh karena itu, terkait pembantaian tersebut, KAMRA menyatakan:
1. Mengutuk keras tragedi kemanusiaan pembunuhan dan pembakaran Alquran dan masjid serta rumah kaum muslimin oleh rezim militer Myanmar yang menimbulkan ratusan korban meninggal dari kaum muslimin.
2. Kami menyatakan turut prihatin dan berduka atas meninggalnya kaum muslimin di Myanmar akibat kebiadaban dan kesewenang-wenangan rezim militer Myanmar yang terus melakukan kezaliman terhadap umat Islam di Myanmar.
3. Kami mendesak dan protes terhadap Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) karena tidak serius dalam menangani masalah ini serta mendiamkan kejadian ini terus menerus berlangsung sehingga menimbulkan penderitaan bagi kaum muslimin Myanmar kususnya Muslim Rohingnya. Oleh karena itu, kami mendesak masyarakat internasional untuk melakukan upaya lebih lanjut dalam menghentikan pembakaran masjid dan rumah kaum muslimin serta penghinaan terhadap Alquran serta pembunuhan umat Islam di Rohingya
4. Mendesak pemerintah Republik Indonesia, agar turut serta menyelesaikan permasalahan tersebut dan mendorong pemberian kemerdekaan bagi muslim Rohingya sesuai dengan amanat dalam pembukaan UUD 1945.
5. Menuntut pemerintah RI agar sesegera mungkin melakukan upaya untuk membantu dan menyelesaikan permasalahan pengungsi Rohingnya yang masih berada di Indonesia serta memberikan tindakan tegas berupa peringatan pemutusan hubungan diplomatik terhadap pemerintah Myanmar sebagai bagian dari komitmen membangun ASEAN bila tidak ada itikad baik dari Myanmar untuk memperhatikan dan memberikan hak yang sama bagi saudara-saudara muslim kita di Myanmar kususnya Rohingya.
6. Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat baik yang peduli dengan kemanusiaan terutama mereka yang peduli untuk ikut serta dalam menekan pemerintahan Myanmar dan menyerukan kepada rezim militer Myanmar untuk menghentikan pembunuhan dan pembakaran masjid dan rumah umat Islam serta penghinaan terhadap Alquran dan menyerukan kepada kaum muslimin khususnya untuk bersama-sama membantu secara moril maupun materil serta mendoakan saudara-saudara kita di Rohingya.
"Apabila solusi diplomatik tidak bisa menghentikan kekejaman rezim militer di seluruh Myanmar terhadap kaum muslimin, maka KAMRA menyerukan kepada kaum muslimin untuk melakukan misi jihad fii sabilillah guna untuk menghentikan kemungkaran dan kezhaliman yang menimpah kaum muslimin Rohingya," tegas Ustaz Bernard.
Sumber:suara-islam.com
BERAKHIRNYA musim angin Muson di sekitar Laut Andaman menandakan dimulainya gelombang laut yang lebih tenang. Ini diprediksi berpotensi meningkatkan jumlah pengungsi Rohingya yang eksodus dari tanah kelahiran.
Mereka menggunakan perahu-perahu nelayan untuk hengkang lantaran kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar beserta kelompok teroris lokal. Tentu kita masih ingat, tahun lalu, ribuan—diperkirakan jumlahnya lebih dari 8.000 jiwa—pengungsi Rohingya terdampar di perairan Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Ketiga negara ini sempat menolak serta membiarkan mereka terombang-ambing dan “terpenjara” di lautan. Akhirnya, Indonesia dan Malaysia menerima mereka.
Itu pun setelah dunia internasional mendesak negara-negara ini agar memberikan perlindungan sementara untuk para pengungsi. Ini merupakan krisis pengungsi terburuk setelah Perang Vietnam dan juga disebut sebagai momen paling memalukan bagi negara-negara Asia Tenggara.
Dasar masalah
Permasalahan paling utama adalah krisis rasial yang dialami oleh etnis Rohingya akibat dicabutnya kewarganegaraan mereka pada 1982 oleh junta militer. Junta militer Myanmar hanya mengakui 135 etnis dan tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari warga negara, bahkan menuduh etnis ini sebagai imigran gelap dari Bangladesh.
Semenjak itu, hak-hak dasar etnis Rohingya tercerabut dan kehidupan mereka termarjinalkan. Kondisi ini berlangsung selama tiga dekade, hingga mulai mendapatkan perhatian dunia setelah kerusuhan yang terjadi pada 2012.
Saat itu, kelompok-kelompok teror Buddhist menyerang desa-desa Rohingya dan menyebabkan sedikitnya 200 orang tewas. Belakangan, pimpinan salah satu kelompok teror ini, biksu Ashin Wirathu, menyamakan dirinya sendiri dengan Donald Trump.
Wirathu, seperti kita tahu, juga pernah menjadi cover majalah TIMES edisi Juli 2013 dengan headline “The Face of Buddhist Terror”. Selama kebijakan apartheid ini diberlakukan, akar permasalahan di Arakan tidak akan pernah selesai.
Respons internasional
Lalu, bagaimana respons komunitas internasional terhadap krisis ini? Mungkin sebagian dari kita bertanya kritis di mana peran ASEAN dalam mengatasi krisis kemanusiaan di regional mereka? ASEAN yang berdiri atas tiga pilar utama ini—ekonomi, sosial, dan politik—seolah diam seribu bahasa.
Ini tidak lepas dari prinsip kardinal yang diyakini oleh negara-negara Asean sebagai “The ASEAN Way”: nonintervensi. Kebijakan yang berarti suatu negara tidak boleh mengintervensi urusan dalam negeri negara lain dan menghormati kedaulatan mereka.
Kebijakan ini yang akhirnya menempatkan negara lain tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan sekadar untuk bersuara. Namun, memang justru karena kebijakan inilah regional di Asia Tenggara relatif aman dan jauh dari konflik besar antarnegara semenjak berdiri 1967.
Jamak konflik yang terjadi di ASEAN justru dimediasi oleh organisasi non-ASEAN. Di sinilah letak ambiguitas prinsip nonintervensi dalam kasus krisis kemanusiaan di Myanmar; apakah ASEAN harus turun tangan atau membiarkan pemerintah Myanmar menyelesaikannya sendiri? Atau mengundang organisasi non-ASEAN untuk menjadi mediator?
Diamnya Suu Kyi
Memasuki bulan kedelapan setelah National League for Democracy (NLD) memenangi pemilu demokratis di Myanmar pada November 2015, pemerintahan Aung San Suu Kyi pun mendapatkan banyak kritikan. Kemampuannya dalam membawa hak keadilan bagi etnis minoritas dipertanyakan.
Bahkan, banyak yang menuntut titel pemenang Nobel miliknya agar dicabut. Tentu desakan itu bukan tanpa alasan.
Karena selama ini Suu Kyi dianggap sebagai “juru selamat” yang menjadi ikon kebebasan dan demokrasi. Suu Kyi dan mayoritas politikus di Myanmar tidak ada yang menolak narasi Islamofobia yang dimunculkan oleh kelompok radikal seperti Biksu Wirathu.
Ada tiga alasan mengapa keinginan Suu Kyi untuk memperbaiki kondisi Rohingya dipertanyakan. Pertama, Suu Kyi tidak mengakui terminologi “Rohingya”. Kedua, komentar dia ketika diwawancarai oleh presenter BBC, Mishal Husein, “No-one told me I was going to be interviewed by a Muslim,” menunjukkan pandangan partisan yang dikecam banyak pihak.
Ketiga, sikap diam Suu Kyi terhadap isu Rohingya. Terakhir ia menolak militer Myanmar disebut melakukan kekerasan terhadap Rohingya pada Oktober 2016. Meski demikian, Suu Kyi telah membentuk komisi khusus yang akan memberikan rekomendasi terkait isu ini maksimum hingga 2017.
Cara menyikapi
Menyikapi krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar, apakah ada yang bisa kita lakukan? Setidaknya atas nama kemanusiaan dan mencegah hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi di dunia ini. Menurut saya, ada empat hal yang bisa kita lakukan.
Pertama, sebagai bagian dari masyarakat global kita wajib mendesak organisasi internasional seperti PBB, ASEAN, Uni Eropa, IOM (International Organization for Migration), dan sebagainya untuk aktif memberikan jaminan keadilan dan keamanan bagi etnis minoritas. Jika ASEAN, dengan prinsip nonintervensinya, menjadikan negara-negara anggota di dalamnya mandul bersuara dalam penyelesaian konflik regional, tidak ada pilihan lain selain memaksa organisasi di luar ASEAN yang lebih berpengaruh untuk menekan pemerintah Myanmar.
Sebagai contoh, banyak NGO internasional menekan PBB agar mengimplementasikan resolusi No. 70/233 terkait situasi krisis kemanusiaan di Myanmar yang sampai saat ini tidak ada realisasi yang berarti. Sebab memang perlu dukungan komunitas masyarakat global agar PBB menghasilkan resolusi yang memaksa pemerintah Myanmar mematuhi resolusi tersebut.
Negara-negara atau badan internasional juga bisa menggunakan prinsip Responsibility to Protect (R2P atau RtoP) terhadap etnis minoritas yang terancam genosida. R2P merupakan sistem baru yang diadopsi oleh PBB semenjak 2005 untuk mencegah genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusian. Di sini, peran komunitas internasional sangatlah dibutuhkan.
Kedua, mendesak pemerintahan Suu Kyi untuk segera mengambil tindakan nyata atas nama demokrasi dan kemanusiaan. Tidak dapat dimungkiri kemenangan Suu Kyi dan partainya NLD membawa harapan baru bagi etnis Rohingya. Namun, hampir setahun pemerintahannya berkuasa, belum ada kebijakan yang signifikan untuk meredam konflik di Arakan.
Ketiga, membantu melalui NGO lokal yang mengirimkan bantuan ke para pengungsi Rohingya. Sebenarnya, bantuan yang mengalir ke Rohingya hanya bersifat sementara yang sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.
Tapi memang bantuan itu tetap dibutuhkan mengingat lebih dari 120 ribu orang etnis Rohingya mengungsi dan terkadang juga diblokade oleh pemerintah Myanmar. Susahnya bantuan untuk masuk ke wilayah Rakhine dirasakan oleh NGO lokal di Indonesia.
Saya pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menurunkan personel untuk mengirimkan bantuan rutin ke pengungsi Rohingya sampai sekarang. Dan, saya tahu betul bagaimana susahnya kehidupan pengungsi di sana.
Keempat, aktif melakukan kampanye kemanusiaan agar krisis ini menjadi perhatian dunia internasional. Tidak hanya bersimpati saat ada kejadian kekerasan, namun dalam bentuk kampanye yang kontinu.
Tentu kita tidak ingin menjadi orang yang peduli musiman: bersimpati hanya kala ada berita bencana. Juga, jangan sampai kita menyebarkan berita-berita hoax yang memperunyam masalah.[]
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/11/19/ogw9ws408-apa-yang-bisa-kita-lakukan-untuk-rohingya
Tiba di Banglades, Ratusan Pengungsi Rohingya Bawa Kisah Horor
DHAKA, Mediasangmuslim.com - Ratusan orang Muslim minoritas Rohingya Tiba di Banglades dengan melarikan Diri Dari pengejaran tentara di Myanmar.
Demikian disampaikan Pemimpin 'masyarakat setempat, Selasa (22/11/2016).
Ratusan pengungsi Yang BERHASIL melintasi Perbatasan Banglades, Datang DENGAN setumpuk Kesaksian soal kekejaman Tentara Yang membunuh Orang Dan Membakar desa mereka.
"Tentara Myanmar membunuh Ayah dan kakak Saya,Saya bersembunyi di bukit Lalu Berjalan Dan berenang menyusuri sungai SEBELUM berlindung di SEBUAH masjid di daerah Banglades"kata Mohammad Amin (17thn).
Amin menambahkan, dia Dan 15 orang lainnya Kabur Dari kampung mereka di gatra Bagian Rakhine, Myanmar lima hari Lalu Dan Tiba di Banglades,menyeberangi Sungai Naf Yang memisahkan kedua negara tersebut.
"Sejauh mata Saya Memandang, Saya Hanya Melihat rumah-rumah Yang Terbakar.
Saya tak mengetahui bagaimana Nasib Ibu dan Saudara Perempuan Saya di sana" lanjut Amin.
Pengungsi Rohingya Yang Tiba di Banglades Adalah Zohra Khatun (25 thn), Yang melarikan Diri Bersama Tujuh anaknya desanya Habis Dibakar.
Perempuan berteriak teriak meminta pertolongan Dari kerabatnya Yang Sudah Tinggal di SEBUAH Kamp pengungsi di Banglades.
"Saya Menunggu dua hari SEBELUM Saya memiliki kesempatan menyeberangi sungai Dan Tiba sini," ujar Zohra.
Kerabat Zohra Yang tak mau disebutkan Namanya mengatakan, di Kamp ITU ditampung setidaknya 100 Keluarga selama dua hari terakhir ini.
Ratusan pengungsi Yang MASUK Ke Banglades berbicara ini termasuk Beruntung, sebab Pasukan Penjaga Perbatasan Banglades Sehari sebelumnya mengusir 300 imigran( orang Rohingya ) Dari perbatasannya.
"Kami mencegah mereka melintasi Perbatasan, terutama mereka Yang Mencoba melintasi Perbatasan Yang dihalangi pagar kawat, "kata Komandan Pasukan Penjaga Perbatasan Banglades.
Angkatan Bersenjata Myanmar telah merilis foto Yang memperlihatkan Tentara berupaya memadamkan api di rumah Yang Terbakar di kampung orangutan Rohingya.